--> Jateng Kece: wisata budaya | Deskripsi Singkat Blog di Sini
Showing posts with label wisata budaya. Show all posts
Showing posts with label wisata budaya. Show all posts

Wednesday, June 6, 2018

Wisata Lawang Sewu dan Sejarahnya

Wisata Lawang Sewu dan Sejarahnya



Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag.

Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda. Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.

Bangunan utama Lawang Sewu berupa tiga lantai bangunan yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri bagian. Jika pengunjung memasukkan bangunan utama, mereka akan menemukan tangga besar ke lantai dua.

Di antara tangga ada kaca besar menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas. Semua struktur bangunan, pintu dan jendela mengadaptasi gaya arsitektur Belanda. Dengan segala keeksotisan dan keindahannya Lawang Sewu ini merupakan salah satu tempat yang indah untuk Pre Wedding.

Lawang Sewu Pasca Pemugaran:

Setelah cukup lama lawang sewu seperti tak terurus, akhirnya Lawang Sewu dilakukan pemugaran yang memakan waktu cukup lama, akhirnya selesai pada akhir Juni 2011 dan kembali dibuka untuk umum setelah pada tanggal 5 Juli 2011 diresmikan oleh Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dan dilanjutkan dengan event Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang menampilkan produk produk tradisional dari seluruh Nusantara. Berikut foto foto Lawang Sewu pasca pemugaran:




Berapakan sebenarnya jumlah pintu dari Lawang Sewu?Seperti Kepulauan Seribu yang jumlah pulau yang sebenarnya tak sampai 1.000, karena tercatat hanya 342 buah bulau saja. Sebutan “Sewu” [Jawa: Seribu], merupakan penggambaran sedemikian banyaknya jumlah pintunya.

Menurut guide lawang sewu, jumlah lubang pintunya terhitung sebanyak 429 buah, dengan daun pintu lebih dari 1.200 (sebagian pintu dengan 2 daun pintu, dan sebagian dengan menggunakan 4 daun pintu, yang terdiri dari 2 daun pintu jenis ayun [dengan engsel], ditambah 2 daun pintu lagi jenis sliding door/pintu geser).

Sejarah Lawang Sewu:

Sejarah gedung ini tak lepas dari sejarah perkeretaapian di indonesia karena dibangun sebagai Het Hoofdkantoor Van de Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) yaitu kantor pusat NIS, perusahaan kereta api swasta di masa pemerintahan Hindia belanda yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia menghubungkan Semarang dengan “Vorstenlanden” (Surakarta dan Yogyakarta) dengan jalur pertamanya Jalur Semarang Tanggung 1867.

Awalnya administrasi NIS diselenggarakan di Stasiun Semarang NIS. Pertumbuhan jaringan yang pesat diikuti bertambahnya kebutuhan ruang kerja sehingga diputuskan membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh pada lahan di pinggir kota dekat kediaman Residen Hindia Belanda, di ujung selatan Bodjongweg Semarang. Direksi NOS menyerahkan perencanaan gedung ini kepada Prof Jacob F Klinkhamer dan B.J Ouendag, arsitek dari Amsterdam Belanda.

Pelaksanaan pambangunan dimulai 27 Februari 1904 dan selesai 1907. Kondisi tanah di jalan harus mengalami perbaikan terlebih dahulu dengan penggalian sedalam 4 meter dan diganti dengan lapisan vulkanis. Bangunan pertama yang dikerjakan adalah rumah penjaga dan bangunan percetakan, dilanjutkan dengan bangunan utama. Setelah dipergunakan beberapa tahun, perluasan kantor dilaksanakan dengan membuat bangunan tambahan pada tahun 1916 – 1918.

Pada tahun 1873 rel kereta api pertama di Hindia Belanda selesai dibangun. Jalan itu dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij (NIS), suatu perusahaan swasta yang mendapat konsesi dari pemerintah kolonial untuk menghubungkan daerah pertanian yang subur di Jawa Tengah dengan kota pelabuhan Semarang (Durrant, 1972). Stasiun di Semarang yang berada di tambaksari tidak jauh dari pelabuhan.

Pada peralihan abad ke-20 NIS membangun stasiun stasiun baru yang besar. Pada tahun 1914 stasiun Tambaksari digantikan oleh Stasiun Tawang. Sebelumnya pada tahun 1908 selesai dibangun pula kantor pusat NIS yang baru, bangunan itu berada di ujung jalan Bodjong, di Wilhelmina Plein berseberangan dengan kediaman gubernur.

Kantor pusat NIS yang baru itu adalah bangunan besar 2 lantai berbentuk “L” yang dirancang oleh J.F Klinkhamer dan Ouendag dalam gaya Renaissance Revival (Sudrajat,1991). Menurut Sudrajat pembangunan kantor pusat NIS di Semarang adalah tipikal 2 dasawarsa awal abad 20 ketika diperkenalkan politik etis, ketika itu “… Muncul kebutuhan yang cukup besar untuk mendirikan bangunan bangunan publik dan perumahan, akibat perluasan daerah jajahan, desentralisasi administrasi kolonial dan pertumbuhan usaha swasta”.

Penduduk Semarang memberinya nama “Lawang Sewu” (pintu seribu), mengacu pada pintu pintunya yang sangat banyak, yan gmerupakan usaha para arsiteknya untuk membangun gedung kantor modern yang sesuai dengan iklim tropis Semarang. Semua bahan bangunan didatangkan dari Eropa kecuali batu bata, batu alam dan kayu jati.

Pada saat yang bersamaan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) berusaha mengambil alih kereta api, pertempuran pecah antara pemuda dan tentara Jepang, belasan pemuda terbunuh di gedung ini, 5 diantara mereka dimakamkan di halaman (tetapi pada tahun 1975 jenazah mereka dipindah ke Taman Makam Pahlawan). Di depan Lawang Sewu berdiri monumen untuk memperingati mereka yang gugur di Pertempuran Lima Hari.

Sesaat setelah kemerdekaan Lawang Sewu digunakan Kantor Perusahaan Kereta Api, kemudian militer mengambil alih gedung ini, tetapi sekarang telah kembali ke tangan PT KAI. (seputarsemarang)

Tuesday, June 5, 2018

Wisata Budaya dan Sejarah Tugu Muda Semarang

Wisata Budaya dan Sejarah Tugu Muda Semarang


Tugu muda ini menggambarkan semangat juang warga Semarang khususnya para remaja untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan kota Semarang pada khususnya. Monumen bersejarah ini dibangun untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang ketika melawan penjajah Jepang dari tanggal 14-19 Oktober1945. Atas prakarsa Koordinasi Pemuda Indonesia, didirikanlahTugu Muda ini. Tetapi rencana ini gagal karena mengalami sebuah kendala dalam pendanaan.

Sehingga pada tahun 1951 dibentuklah Panitia Tugu Muda yang diketuai Subeno Sosro Wardoyo (Walikota Semarang pada saat itu). Rancangan desain Tugu Muda ini dilakukan oleh Salim, sedangkan pada bagian relief dikerjakan oleh seniman yang bernama Hondro.

Di sebelah utara Tugu Muda ini terdapat Gedung Pandanaran,  di sebelah Timur terdapat obyek wisata Lawang Sewu, di sisi selatan berhadapan dengan Museum Mandala Bhakti, sedangkan di sebelah barat Tugu Muda terdapat Wisma Perdamaian.

Hingga saat ini Tugu Muda menjadi sebuah tempat berkumpul oleh kawula muda Semarang untuk bersantai, berkumpul, bercanda, photo-photo pada malam hari, terutama malam Minggu di area Tugu Muda Semarang sangat ramai.

SEJARAH PEMBANGUNAN

Rencana awal tugu ini akan diletakkan di dekat alun-alun, namun karena pada bulan Nopember 1945 meletus perang melawan Sekutu dan Jepang, proyek ini menjadi terbengkalai. Kemudian atas prakarsa  Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI) pada tahun 1949, pembangunan tugu kembali dilakukan, namun karena kesulitan dana, ide ini jugaa belum terlaksana. Pembangunan Tugu Muda ini dimulai dengan peletakan batu pertama yang dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1945, oleh Mr. Wongsonegoro, yakni Gubernur Jawa Tengah pada saat itu.

Pada tahun 1951 dibentuk Panitia Tugu Muda untuk merancang pembangunan kembali, tetapi lokasinya di semarang yakni di pertemuan Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Dr. Sutomo, dan Jl. Pandanaran seperti lokasi saat ini. Akhirnya pada tanggal 10 November 1951, Boediono (Gubernur Jawa Tengan) meletakkan batu pertama di lokasi tersebut.

Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada tugu dikerjakan oleh seniman Hendro.  Batu yang digunakan antara lain didatangkan dari Kaliurang dan Paker.

Tugu ini diresmikan  pada tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional oleh Ir. Soekarno.



DISKRIPSI

Tugu ini terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Pasa sisi landasan tugu terdapat relief. Keseluruhan tugu dibuat dari batu. Untuk memperkuat kesan tugunya, dibuat kolam hias dan taman pada sekeliling tugu.

Di taman di berikan beberapa ornamen air mancur, lampu-lampu warna putih dan kuning yang akan menambah kesan anggun di malam hari. Terdapat pula pohon cemara, duplikasi senjata bambu runcing yang tegak berdiri berjajar sebanyak 5 (lima) buah. Bambu runcing ini menggambarkan Pertempuran lima hari di Semarang dengan bersenjatakan bambu runcing.

Pada bagian kaki tugu terdapat relief dengan lima buah sangga pilar, yang dipergunakan untuk menggambarkan berbagai macam relief, juga dimaksudkan sebagai lamban Pancasila. Pada tiap-tiap sangga terdapat hiasan-hiasan yang berbeda satu dengan yang lain yaitu:


  • Relief Hongerodeem

Menggambarkan kehidupan rakyat Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang yang sangat tertindas dan banyak yang menderita kelaparan, hingga hongerodeem atau penyakit busung lapar merajalela di kalangan masyarakat.


  • Relief Pertempuran

Menggambarkan betapa besar gelora semangat juang serta keberanian para pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan negara dan bangsanya.

  • Relief Penyerangan

Menggambarkan perlawanan rakyat Indonesia terhadap pihak penjajahan untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

  • Relief Korban

Menceritakan tentang Pertempuran Lima Hari di Semarang,  bahwa pada pertempuran tersebut banyak rakyat yang menjadi korban.

  • Relief Kemenangan

Menggambarkan hasil jerih payah dan pengorbanan yang telah membasahi bumi kota Semarang. (wisatajateng)